GOWA – Kisah pilu dialami seorang siswi SMP negeri di Kecamatan Bontonompo Selatan, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Hampir setahun ia absen dari sekolah akibat trauma setelah mengalami perundungan terkait kondisi fisiknya.
Siswi berinisial F (14), warga Dusun Pajjokki, Desa Tanrara, Kecamatan Bontonompo Selatan, yang kini duduk di bangku kelas VIII SMP negeri di Desa Sengka, memilih berdiam diri di rumah dan menolak berinteraksi dengan lingkungan luar.
Orang tuanya, Daeng Nojeng (Dg. Nojeng) yang berprofesi sebagai petani, mengatakan anaknya lahir dengan kondisi celah langit-langit mulut (cleft palate) sehingga cara berbicaranya berbeda. Kondisi inilah yang kerap menjadi bahan ejekan teman-temannya di sekolah.
“Awalnya dia sering pulang menangis, bilang diejek. Lama-lama dia takut ke sekolah, dan hampir setahun ini tidak pernah masuk,” ungkap Dg. Nojeng saat ditemui di rumahnya, Minggu (14/9/2026).
Ironisnya, di tengah absennya F selama hampir setahun, pihak sekolah terkesan abai dan minim empati. Tidak ada kunjungan rumah (home visit), sapaan, ataupun sekadar menanyakan kabar. F seolah dibiarkan hilang begitu saja dari daftar kehadiran, padahal pihak keluarga mengaku sudah melaporkan kejadian tersebut kepada wali kelas.
“Katanya sudah ditegur. Tapi setelah itu, anak saya malah semakin sering mendapat perlakuan tidak baik. Terakhir, pihak sekolah sempat memulangkan anak saya dengan alasan tidak mengerjakan tugas,” tambah Dg. Nojeng.
Keterbatasan ekonomi membuat F tidak pernah mendapatkan penanganan medis yang optimal untuk kondisi fisiknya, yang kemudian semakin memperparah rasa minder pada dirinya.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak SMP negeri terkait maupun Dinas Pendidikan Kabupaten Gowa belum memberikan keterangan resmi. (HSN/TIM)















