banner 1024x1282

Pilrek UNM: Ngopi Dulu, Nikmati Proses, Beda Pilihan Tetap Bersama

Oleh: Dr. Ismail, S.Pd., M.Si.,Dosen Ilmu Administrasi Negara, Universitas Negeri Makassar

JURNAL – Pemilihan Rektor Universitas Negeri Makassar (UNM) periode 2027–2031 semakin menarik untuk diikuti. Nama-nama bakal calon mulai diperbincangkan, peta dukungan mulai diprediksi, dan berbagai kalkulasi mengenai kemungkinan tiga besar beredar di ruang publik.

Di media dan media sosial, hampir setiap peristiwa dapat melahirkan beragam tafsir. Semua ini wajar dalam sebuah proses pergantian kepemimpinan. Karena itu, daripada menghadapinya dengan ketegangan yang berlebihan, saya ingin mengajak seluruh sivitas akademika dan keluarga besar UNM untuk bergembira menikmati setiap tahapan Pilrek yang sedang berlangsung.

Pilrek sejatinya adalah proses akademik untuk mencari pemimpin universitas. Kita boleh memiliki pilihan, mendukung calon tertentu, berdiskusi, membaca peta dukungan, bahkan berbeda pendapat. Semua itu merupakan bagian dari dinamika organisasi yang sehat.

Yang perlu dijaga adalah jangan sampai perbedaan pilihan mengubah suasana persaudaraan menjadi pengelompokan yang kaku. Kita tidak perlu membangun dikotomi alumni dan nonalumni, orang lama dan orang baru, kelompok ini dan kelompok itu, terlebih menggunakan istilah “geng” tertentu yang pada akhirnya hanya menciptakan jarak di antara sesama keluarga besar UNM.

Secara sederhana, kecenderungan membentuk kelompok “kita” dan “mereka” dapat dijelaskan melalui Social Identity Theory. Tajfel dan Turner (1979) menjelaskan bahwa manusia secara alamiah cenderung mengidentifikasi dirinya sebagai bagian dari kelompok tertentu. Dalam batas yang wajar, hal tersebut tidak menjadi persoalan.

Namun, ketika identitas kelompok terlalu dominan, seseorang dapat mulai menilai orang lain berdasarkan kelompok asalnya, bukan lagi berdasarkan gagasan dan kapasitasnya. Dalam konteks Pilrek, jangan sampai pertanyaan “dia kelompok siapa?” menjadi lebih penting daripada pertanyaan “apa yang dapat dia lakukan untuk UNM?”

Hal yang sama berlaku terhadap pemberitaan mengenai penampilan atau simbol yang menyertai kandidat. Kendaraan yang digunakan, rombongan yang mengantar, pakaian, jumlah pendamping, dan berbagai simbol lain dapat menjadi bahan pemberitaan serta melahirkan persepsi yang berbeda. Dalam perspektif Symbolic Interactionism, Blumer (1969) menjelaskan bahwa manusia memberi makna terhadap simbol melalui proses interaksi sosial.

Karena itu, sebuah kendaraan dapat ditafsirkan sebagai simbol kemewahan oleh sebagian orang, tetapi dapat pula memiliki penjelasan atau makna berbeda bagi pihak lain. Kritik terhadap simbol tentu sah, terlebih calon pemimpin institusi publik memang perlu peka terhadap persepsi masyarakat.

Namun, penilaian terhadap calon rektor sebaiknya tidak berhenti pada simbol. Yang jauh lebih penting adalah rekam jejak, integritas, kapasitas kepemimpinan, visi, program, serta kemampuannya membawa UNM menjadi lebih baik.

Karena itu, pemberitaan mengenai kemewahan, rombongan kandidat, almamater, ataupun jejaring pendukung sebaiknya kita tempatkan secara proporsional. Kita boleh mendiskusikannya, tetapi jangan menjadikannya satu-satunya dasar untuk menilai seseorang.

Kampus adalah ruang rasionalitas. Perbedaan pandangan semestinya memperkaya diskusi, bukan menjadi bahan untuk saling memberi label. Semakin tinggi tradisi akademik sebuah universitas, semakin besar pula kemampuannya membedakan antara fakta, persepsi, simbol, dan substansi.

Di sisi lain, berbagai prediksi mengenai tiga besar juga perlu dinikmati secara santai. Jadwal resmi Pilrek UNM menunjukkan bahwa proses masih panjang. Penyaringan untuk menetapkan tiga calon dijadwalkan pada 4 November 2026, kemudian tiga nama tersebut disampaikan kepada Menteri, sementara pemilihan bersama Menteri dijadwalkan pada 17 Desember 2026 (Universitas Negeri Makassar, 2026). Dengan demikian, secara prosedural tiga besar belum menentukan siapa yang menjadi Rektor UNM.

Dalam perspektif Institutional Theory, Scott (2014) menjelaskan bahwa keputusan organisasi berlangsung dalam kerangka aturan, norma, dan struktur kelembagaan. Artinya, Pilrek harus dipahami sebagai sebuah rangkaian proses. Ada penjaringan, penyaringan, pemilihan, hingga penetapan dan pelantikan. Karena itu, jangan terlalu cepat menjadikan prediksi sebagai hasil, dan jangan pula menjadikan hasil satu tahapan sebagai kesimpulan terhadap keseluruhan proses.

Pengalaman Universitas Mulawarman (UNMUL) dapat menjadi pelajaran. Pada tahap penyaringan, tiga calon memperoleh 65, 24, dan 1 suara. Ketiganya tetap melanjutkan proses ke tahap berikutnya. UNMUL juga menjelaskan bahwa dalam tahap pemilihan akhir terdapat komposisi 65 persen hak suara Senat dan 35 persen hak suara Menteri (Universitas Mulawarman, 2026). Pengalaman ini menunjukkan bahwa penyaringan tiga besar dan pemilihan akhir memang merupakan dua tahapan yang berbeda.

Hal serupa terlihat di Universitas Halu Oleo (UHO). Tiga calon hasil penyaringan memperoleh 15, 11, dan 10 suara. Ketiganya kemudian diteruskan ke Kementerian untuk mengikuti tahapan berikutnya, termasuk penelusuran rekam jejak, pemeriksaan administrasi, dan wawancara.

Pemilihan akhirnya menggunakan akumulasi suara dengan proporsi 65 persen Senat dan 35 persen Menteri (ANTARA, 2026). Pengalaman UNMUL dan UHO bukan untuk memprediksi apa yang akan terjadi di UNM, melainkan menunjukkan bahwa tiga besar adalah bagian dari proses, bukan garis finis.

Herbert Simon melalui konsep bounded rationality juga mengingatkan bahwa keputusan organisasi dibuat dalam situasi ketika informasi, pilihan, dan konteks dapat berubah (Simon, 1997). Karena itu, peta dukungan hari ini tidak harus dibaca sebagai sesuatu yang permanen. Tidak perlu terlalu tegang dengan angka yang beredar. Tidak perlu pula tergesa-gesa mengumumkan siapa yang paling kuat atau siapa yang akan menang. Biarkan mekanisme resmi bekerja.

Justru yang lebih penting adalah menjadikan Pilrek sebagai ruang untuk membicarakan masa depan UNM. Kita ingin mengetahui gagasan setiap kandidat tentang kualitas akademik, riset dan publikasi, kesejahteraan dosen dan tenaga kependidikan, pelayanan mahasiswa, transformasi digital, tata kelola, transparansi, serta reputasi UNM di tingkat nasional dan internasional. Diskusi seperti inilah yang seharusnya lebih banyak memenuhi ruang publik kita.

Semangat tersebut sejalan dengan prinsip Good University Governance: transparansi, akuntabilitas, fairness, partisipasi, dan integritas. Panitia Pilrek UNM sendiri telah menyatakan komitmennya untuk menjalankan proses secara profesional, transparan, objektif, dan akuntabel. Dalam rangkaian sosialisasi Pilrek juga muncul pesan penting bahwa perbedaan pilihan tidak semestinya mengotak-kotakkan keluarga besar UNM.

Karena itu, mari kita bergembira menikmati Pilrek ini. Silakan mendukung calon masing-masing. Silakan berdiskusi dan berbeda pandangan. Silakan mengkritisi gagasan, program, rekam jejak, bahkan simbol-simbol yang ditampilkan kandidat. Namun, lakukan semuanya secara rasional, santun, dan berbasis fakta. Dukungan kepada satu kandidat tidak harus disertai dengan merendahkan kandidat lainnya.

Tidak perlu alumni versus nonalumni. Tidak perlu kelompok ini versus kelompok itu. Tidak perlu pula “geng” tertentu versus “geng” lainnya. Setelah seluruh tahapan selesai, siapa pun yang terpilih tidak akan menjadi rektor bagi kelompok pendukungnya saja. Ia akan menjadi Rektor Universitas Negeri Makassar, dengan tanggung jawab memimpin seluruh dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, dan seluruh unsur universitas.

Maka, biarkan penjaringan berjalan. Biarkan penyaringan berlangsung secara fair. Biarkan tiga besar terbentuk melalui mekanisme yang telah ditetapkan. Setelah itu, biarkan pula proses berikutnya berjalan sesuai aturan. Kita kawal bersama dengan kritis, tetapi tidak perlu kehilangan kegembiraan dan persaudaraan akademik.

Pada akhirnya, Pilrek akan selesai. Spanduk akan diturunkan, dukungan akan berhenti dihitung, dan perbedaan pilihan akan menjadi bagian dari sejarah perjalanan universitas. Yang tetap tinggal adalah UNM dan keluarga besar yang ada di dalamnya. Karena itu, jangan sampai ada kandidat yang menang tetapi kebersamaan UNM justru kalah.

Mari bergembira menikmati prosesnya. Beda pilihan itu biasa. Tetap bersama jauh lebih utama. Siapa pun yang akhirnya terpilih, UNM tetap rumah kita bersama. (*)

banner 2000x1100

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *