JURNAL – Siang di Kabupaten Soppeng tadi begitu teduh. Matahari Agustus menyinari lembut kota yang dikenal sebagai “Bumi Latemmamala” itu. Angin dari arah Cenrana berhembus pelan, membawa aroma tanah basah selepas hujan semalam. Di tengah suasana sederhana namun penuh arti, sebuah paket buku tiba tepat pukul 12.49 WITA membawa kabar yang akan menggembirakan pecinta budaya dan pencari makna hidup.
Buku itu berjudul The Philosophy of La Galigo. Bukan sekadar buku baru yang singgah, melainkan sebuah penanda: Soppeng kembali dipertemukan dengan denyut filsafat yang bersumber dari akar budayanya sendiri.
Karya Mappasessu, S.H., M.H. ini diterbitkan oleh Goresan Pena dan terdiri dari 15 bab dengan 138 halaman. Namun isinya melampaui hitungan angka. Ia mengalir laksana sungai tua yang menyimpan ingatan, kesadaran, dan jalan pulang.
Baca juga: Kesalahan Penerapan Hukum: Gugatan Tanah Hibah di Pengadilan Agama Dibatalkan MA
“La Galigo bukan sekadar epos sastra terpanjang di dunia; ia adalah peta filsafat hidup, kitab tubuh, dan zikir semesta bagi manusia Bugis,” tulis penulis dalam pengantar di halaman-halaman awal, sembari pembaca diajak menatap tiga dunia kosmologi Bugis: Boting Langi’ (langit atas), Ale Kawa (dunia tengah), dan Wurénna Lino (dunia bawah). Lalu hadir Welenrennge, pohon kosmik yang menjadi poros kesadaran; Eppa Sulapa, empat unsur api, angin, air, dan tanah; serta tokoh-tokoh abadi seperti Sawérigading—sang pelaut jiwa—dan We Tenriabeng—perempuan bijaksana yang lebih layak dipahami ketimbang dimiliki.
Buku ini juga menyingkap peran bissu sebagai penjaga keseimbangan kosmos, arsitektur rumah adat Bugis sebagai tata ruang jiwa, hingga tradisi merantau (sompe’) sebagai jalan pembentukan diri. Semua itu dirajut untuk mengingatkan kembali bahwa siri’, pesse, dan lempu’ bukan sekadar kata, melainkan napas yang menegakkan Bugis sebagai manusia seutuhnya.
“Kita hidup di zaman ketika akar sering dilupakan. Ketika nilai lokal dianggap usang, dan tubuh kita tercerabut dari ritme bumi dan langit. Buku ini hadir untuk menjembatani: antara masa lalu yang penuh kebijaksanaan dan masa kini yang haus arah,” lanjut Mappasessu.
Dan siang ini, di kota kecil Soppeng yang pernah menjadi jantung peradaban Bugis, buku itu tiba. Tak ada gegap gempita pesta, hanya keteduhan sore dan senyum mereka yang menanti. Tapi mungkin justru dalam kesederhanaan itulah terasa makna paling dalam: bahwa The Philosophy of La Galigo datang bukan untuk menjadi benda koleksi, melainkan obor kecil yang menyalakan kembali api pencarian—di dada para pencinta filsafat, penjelajah makna, dan anak muda Bugis yang masih ingin tahu dari mana mereka berasal dan ke mana mereka hendak pergi.
Hari ini, Soppeng menyambut bukan sekadar sebuah buku. Ia menyambut sebuah ajakan untuk pulang ke akar, sembari menatap jauh ke cakrawala. (*)















