TAKALAR – Di tengah isu kenaikan harga BBM yang berpotensi mengganggu distribusi logistik kesehatan, pihak RSUD H. Padjonga Daeng Ngalle memastikan ketersediaan Alat Pelindung Diri (APD), khususnya sarung tangan lateks (handscoon), tetap dalam kondisi aman.
Direktur RSUD H. Padjonga Daeng Ngalle, dr. Ruslan Ramli, menegaskan bahwa hingga saat ini tidak ada kendala dalam penyediaan stok, meskipun terjadi dinamika harga bahan bakar yang berdampak pada distribusi logistik.
“Selama kenaikan BBM ini, tidak pernah ada kehabisan stok. Aman,” ujarnya saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (21/4/2026).
Menurutnya, sarung tangan lateks merupakan kebutuhan vital dalam pelayanan medis, baik untuk tindakan ringan maupun prosedur dengan risiko tinggi. Ia menjelaskan, terdapat dua jenis handscoon yang digunakan di rumah sakit, yakni steril dan non-steril.
Sarung tangan steril umumnya digunakan di ruang tindakan seperti ruang bedah, ICU, Instalasi Gawat Darurat (IGD), hingga poli bedah. Sementara itu, sarung tangan non-steril digunakan untuk aktivitas medis sehari-hari yang tetap membutuhkan perlindungan terhadap potensi infeksi.
“Penggunaan sarung tangan ini bukan hanya untuk pasien, tetapi juga melindungi petugas. Setiap kontak dengan pasien, apalagi jika ada luka, wajib menggunakan handscoon,” jelasnya.
Terkait pengadaan, dr. Ruslan menyebut bahwa sarung tangan lateks termasuk dalam kategori Barang Medis Habis Pakai (BMHP) yang dipenuhi melalui sistem pengadaan resmi rumah sakit. Distribusinya dilakukan oleh instalasi farmasi ke seluruh unit pelayanan.
Ia menegaskan, ketersediaan handscoon tidak bisa ditawar dalam layanan kesehatan. Kekosongan stok berpotensi mengganggu bahkan menghentikan pelayanan medis.
“Tidak mungkin tindakan operasi atau pelayanan dilakukan tanpa sarung tangan. Kalau tidak ada, itu berbahaya dan bisa menghentikan pelayanan,” tegasnya. (HSN)















