Renungan 1 Muharram 1447 H
JURNAL – Menjadi Bugis adalah menjadi utusan tiga alam. Di pundak kita, langit menitipkan cahaya; di kaki kita, bumi menggantungkan akar; dan di dada kita, dunia menunggu untuk ditata dengan keseimbangan dan kasih.
Di dalam nadi kami mengalir kisah purba, jauh sebelum zaman mengenal logam dan kertas. Kami adalah keturunan dari manurung, yang turun dari langit atas (boting langi’) untuk membangun keseimbangan di tengah dunia (ale kawa), dan menjaga kesejatian akar di dunia bawah (peretiwi). Kami adalah anak dari tiga alam, bagian dari harmoni semesta yang dikenal dalam falsafah Bugis sebagai pitu langi, tujuh lapis ruang yang diikat oleh kesadaran.
Dalam hidup kami, tak ada yang sekadar jasmani atau rohani. Segalanya menyatu seperti Welenrénngé, pohon kosmik yang menghubungkan langit, bumi, dan dasar samudra. Dari akarnya mengalir hikmah nenek moyang. Di pucuknya, angin membawa bisikan para dewata. Kami tumbuh bersamanya—menjalar bukan untuk merambat, tetapi untuk merangkul ruang hidup dalam siklus abadi.
Kami menatap langit bukan sekadar mencari arah, tetapi membaca pesan Pelangi Tarawue, busur warna yang bukan hanya indah, tetapi pertanda bagi para petualang, bahwa waktu dan ruang saling menjalin. Dalam pelangi itu, Sawerigading menemukan jalannya, bukan hanya menuju negeri jauh, tetapi menuju jati dirinya sendiri.
Sawerigading—bukan hanya nama seorang raja atau pelaut, tetapi simbol dari keberanian menjelajah batas dan melampaui diri. Ia berlayar melintasi laut, bukan semata untuk cinta atau takhta, tapi untuk menyeimbangkan kosmos dalam dirinya. Sebab orang Bugis tahu: setiap perjalanan ke luar adalah jalan pulang ke dalam.
Kami dididik dalam simpul Eppa Sulapa—empat unsur pembentuk manusia: api (bara), angin (naga), air (ue), dan tanah (ale). Setiap unsur adalah satu sisi diri kami. Api adalah semangat, angin adalah pikiran, air adalah rasa, dan tanah adalah pijakan. Hanya yang memahami keempat unsur dalam dirinya yang bisa menjadi lempu’, jujur dan lurus dalam hidup.
Kitab I La Galigo bukan sekadar dongeng, melainkan kitab hidup. Di dalamnya bukan hanya ada asal-usul manusia, tetapi etika, filosofi, dan tata cara menjaga dunia. Kami membaca Lontaraq, bukan sekadar tulisan kuno, tetapi petunjuk untuk hidup adak—beradat, bermartabat. Di sana tertulis bahwa dalam hidup, harga diri (siri’), empati (pesse), dan kelurusan (lempu’) adalah pilar peradaban.
Orang Bugis tidak hidup di antara masa lalu dan masa depan. Kami hidup dalam lingkar waktu yang disebut Abbulo Sibatang—bambu sebatang yang tumbuh tegak, bercabang, dan tetap satu. Dalam tegaknya, kami berdiri. Dalam cabangnya, kami tumbuh. Dalam kesatuannya, kami menyatu.
Kini, ketika dunia berubah dengan cepat, kami tidak kehilangan arah. Sebab akar kami tak putus, dan langit kami tak redup. Kami bukan sekadar penumpang dalam sejarah, tapi penjaga nilai. Dalam tubuh kami tertulis huruf Lontara, dalam jiwa kami berdetak irama zikir tanah leluhur, dan dalam langkah kami, suara laut dan angin menyatu jadi nyanyian kehidupan.
Menjadi Bugis bukan hanya soal darah, tetapi tentang menjadi bagian dari narasi semesta yang hidup. Setiap orang Bugis adalah penjaga kosmos dalam dirinya, jembatan antara langit, bumi, dan dasar laut. Dalam dunia yang terfragmentasi, narasi ini adalah penyatu: akar, batang, dan buah dari jati diri yang tak lekang oleh waktu. (*)















