LUWU TIMUR – Pelayanan di RSUD I Lagaligo Wotu kembali menjadi sorotan publik. Setelah sempat disidak oleh Bupati Luwu Timur, Irwan Bachri Syam, kini fasilitas kesehatan di rumah sakit tersebut dikeluhkan oleh keluarga pasien. Alat Rontgen di RSUD I Lagaligo dilaporkan tidak dapat digunakan saat dibutuhkan, sehingga pasien dengan kondisi sesak napas parah terpaksa dirujuk ke Kota Palopo.
Ihwal, salah satu keluarga pasien, menceritakan bahwa orang tuanya semula ditangani di Puskesmas Malili dan berencana dirujuk ke RS Andi Djemma Masamba, Luwu Utara. Saat itu, ia sudah menerima informasi bahwa alat Rontgen di RSUD I Lagaligo sedang bermasalah, sementara RS Sorowako dalam kondisi penuh.
Dalam perjalanan pada Selasa malam, pihak keluarga mendapat kabar bahwa pasien masih memungkinkan untuk dirawat di RSUD I Lagaligo Wotu. Pasien pun akhirnya dibawa ke rumah sakit tersebut untuk mendapatkan perawatan.
Namun, pada Rabu (2/9/2026) sekitar pukul 10.00 WITA, pasien diantar ke ruang radiologi untuk menjalani pemeriksaan Rontgen. Sayangnya, pemeriksaan batal dilakukan.
“Sudah dibawa ke ruang radiologi untuk Rontgen, tetapi perawat bilang tidak jadi karena alatnya rusak. Perawat kemudian menyampaikan bahwa orang tua kami harus dirujuk ke RS Sawerigading Palopo,” ujar Ihwal.
Kondisi pasien saat itu terbilang kritis. Akibat sesak napas yang parah, pasien bahkan tidak mampu berbaring dan harus tetap duduk walau telah dibantu tabung oksigen.
Penanganan pun terkesan lambat. Pihak keluarga harus menunggu hingga melampaui pukul 16.00 WITA sebelum ambulans penjemput tiba. Setelah menanti berjam-jam, pasien baru bisa diberangkatkan ke Palopo untuk penanganan medis lanjutan.
“Kami tentu kecewa dengan fasilitas di RSUD I Lagaligo Wotu. Seharusnya orang tua kami sudah bisa dirawat dengan tenang. Namun karena alat rusak, beliau harus menempuh perjalanan jauh lagi ke rumah sakit lain. Padahal kondisinya sedang sesak napas parah,” keluh Ihwal.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, keluhan terkait fasilitas alat Rontgen di RSUD I Lagaligo diduga bukan pertama kalinya terjadi. Kondisi ini memicu keprihatinan mendalam, mengingat rumah sakit ini baru saja menerima inspeksi mendadak dari Bupati.
Publik kini menanti transparansi dan penjelasan resmi dari manajemen RSUD I Lagaligo terkait penyebab serta durasi kerusakan alat Rontgen tersebut. Bagi pasien dalam kondisi darurat, kesiapan fasilitas medis bukan sekadar urusan teknis, melainkan pertaruhan keselamatan nyawa.
Masalah ini turut memantik tanggapan keras dari Ketua Badan Kajian dan Pengawasan Pembangunan Aliansi Media Jurnalis Independen Republik Indonesia (BKPP AMJI-RI), Muh. Rafi. Ia menegaskan pentingnya audit dan pemeliharaan berkala terhadap seluruh fasilitas rumah sakit.
“Manajemen rumah sakit tidak boleh pasif dan baru sibuk melakukan pembenahan saat ada pasien gawat darurat yang terlantar. Pengecekan serta pemeliharaan seluruh fasilitas medis—khususnya alat vital seperti Rontgen—wajib dilakukan secara berkala dan konsisten, ada maupun tidak ada pasien kritis. Rumah sakit adalah garda terdepan keselamatan masyarakat, jadi kesiapan alat medis tidak bisa ditawar-tawar lagi,” tegas Muh. Rafi.
Dikonfirmasi secara terpisah pada Rabu (2/9), Direktur RSUD I Lagaligo Wotu mengklaim bahwa fasilitas tersebut telah diperbaiki.
“Sekarang sudah bisa (berfungsi kembali),” singkatnya. (RED)















