Membaca Momentum Prof. Aslinda Menuju Rektor UNM: Perspektif 5 M

Oleh: Dr. Ismail, S.Pd., M.Si.

JURNAL – Pemilihan Rektor Universitas Negeri Makassar (UNM) periode 2027–2031 bukan sekadar pergantian kepemimpinan. Ia merupakan momentum menentukan arah UNM di tengah tuntutan transformasi pendidikan tinggi, digitalisasi, peningkatan reputasi akademik, serta penguatan tata kelola universitas.

Dalam membaca dinamika tersebut, saya mencoba menggunakan perspektif sederhana 5M: Mesin, Massa, Modal Sosial, Message, dan Momentum. Kerangka ini bukan untuk memprediksi hasil pemilihan, melainkan sebagai instrumen untuk membaca kekuatan kepemimpinan secara lebih objektif. Salah satu figur yang menarik dianalisis melalui perspektif ini adalah Prof. Dr. Andi Aslinda, M.Si., Wakil Rektor Bidang Akademik UNM.

Pertama, Mesin. Dalam konteks pemilihan rektor, mesin bukan sekadar organisasi pendukung, tetapi jaringan akademik dan kelembagaan yang terbentuk melalui perjalanan panjang seseorang di universitas. Pengalaman Prof. Aslinda dalam berbagai posisi akademik dan struktural merupakan modal untuk memahami karakter, kebutuhan, serta kompleksitas UNM. Namun, jaringan struktural tidak otomatis menjadi dukungan elektoral. Mesin baru mempunyai arti ketika mampu melahirkan kepercayaan.

Prof. Dr. Andi Aslinda, M.Si., Wakil Rektor Bidang Akademik UNM.

Kedua, Massa. Pilrek berbeda dengan Pilkada. Massa dalam pemilihan rektor bukan kerumunan atau popularitas di ruang publik, melainkan tingkat penerimaan dalam komunitas akademik, khususnya di antara unsur-unsur yang memiliki peran dalam proses pemilihan. Tantangan bagi setiap kandidat, termasuk Prof. Aslinda, adalah bagaimana membangun penerimaan yang melampaui batas fakultas, kelompok, dan kepentingan.

Ketiga, Modal Sosial. Inilah salah satu variabel penting. Pengalaman panjang dalam lingkungan akademik, interaksi lintas unit, rekam jejak kepemimpinan, serta jejaring organisasi profesi dapat membentuk modal kepercayaan. Dalam politik akademik, modal sosial sering kali jauh lebih berharga daripada sekadar popularitas. Orang mungkin mengenal seorang kandidat, tetapi pertanyaan terpenting adalah: apakah mereka mempercayainya untuk memimpin?

Keempat, Message. Seorang calon rektor tidak cukup hanya mengatakan bahwa dirinya berpengalaman. Universitas membutuhkan gagasan besar. Pertanyaan mendasarnya sederhana: “Mengapa harus dia, dan mengapa sekarang?” Bagi Prof. Aslinda, pengalaman pada bidang akademik dapat menjadi fondasi untuk menawarkan agenda transformasi akademik, digitalisasi layanan, penguatan program studi, peningkatan reputasi UNM, serta tata kelola universitas yang semakin transparan, kolaboratif, dan berorientasi prestasi.

Kelima, Momentum. Politik kepemimpinan sering ditentukan oleh kemampuan membaca waktu. UNM sedang berada pada fase transisi sekaligus mencari arah kepemimpinan untuk periode berikutnya. Pada situasi seperti ini, pengalaman, stabilitas, kemampuan merangkul, dan keberanian menawarkan pembaruan menjadi semakin penting. Di sinilah momentum Prof. Aslinda menarik untuk dicermati.

Jika kelima variabel tersebut disederhanakan, Prof. Aslinda memiliki modal awal yang relatif kuat, terutama pada pengalaman kelembagaan, modal sosial, dan momentum. Namun perjalanan menuju kursi Rektor UNM tentu tidak ditentukan oleh satu atau dua variabel. Mesin harus bekerja, massa harus percaya, modal sosial harus dijaga, message harus kuat, dan momentum harus dikelola.

Pada akhirnya, Pilrek UNM semestinya bukan pertarungan tentang siapa yang paling ingin menjadi rektor, melainkan proses akademik untuk menemukan siapa yang paling siap dipercaya membawa UNM melangkah lebih jauh.

Karena jabatan rektor hanya berlangsung beberapa tahun, tetapi keputusan seorang rektor dapat menentukan arah universitas untuk waktu yang jauh lebih panjang.

UNM tidak sekadar membutuhkan pemimpin baru. UNM membutuhkan arah baru, energi baru, dan harapan baru. (*)

banner 2000x1100

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *