JURNAL LUWU TIMUR – Salah seorang warga di Kecamatan Towuti, Kabupaten Luwu Timur (Lutim) secara diam-diam merekam kelakuan salah satu pangkalan gas elpiji 3 Kg saat mitra/agen PT. Harindo Gas Utama melakukan pembongkaran di pangkalan tersebut.
Dalam video itu, pemilik pangkalan diduga menjual gas elpiji 3 Kg diatas harga eceran tertinggi (HET) yakni Rp35 ribu. Ini dilakukan dihadapan sejumlah warga yang ingin membeli gas elpiji serta di hadapan supir PT. Harindo Gas Utama.
Warga tersebut sempat bertanya harga gas elpiji kepada pemilik pangkalan.
“Berapa harga gas elpij,” tanya warga, yang terjadi beberapa hari lalu kejadian.
“Rp35 ribu. Jangan perotes, kalau tidak mau saya tidak kasi,” kata pemilik pangkalan.
Usai video itu viral, Aktivis Luwu Timur, Amrullah langsung menghubungi Kadis Koperindag Luwu Timur, Senfry Oktavianus.
“Sudah kami hubungi kadis Koperindag. Dia sudah atensi, dan pangkalan tersebut bakal diputus kontrak dengan PT. Harindo Gas Utama seperti dalam kejadian di video itu,” kata Ullah sapaan akrabnya, Sabtu (1/2/2025).
“Kami juga berterima kasih kepada warga yang telah memberanikan diri untuk merekam aktivitas pangkalan-pangkalan yang nakal, dan bersedia membagikan informasi dimana aktivitas pangkalan yang melakukan penjualan di atas HET yang sangat merugikan masyarakat,” sambung Ullah.
Iskaruddin yang juga salah satu aktivis mengakui telah melakukan pengiriman persuratan ke DPRD untuk membahas persoalan kelangkaan elpiji 3 Kg.
“Kami sudah lihat video-nya dan masih banyak bukti-bukti lain yang kita punya, dan nantinya akan menambah pembahasan di DPRD bahwa memang pangkalan-pangkalan yang ada di Luwu Timur kebanyakan tidak mengikuti aturan dan pengawasan pihak terkait sangat lemah,” ungkap Iskar.
Lanjut dikatakan Iskar, kalau hari Senin ada penutupan salah satu pangkalan yang nakal, berarti ini bisa menjadi salah satu keberhasilan pemerintah Kabupaten Luwu Timur (Diskoprindag-red) yang melibatkan unsur masyarakat dalam pelaksanaan pengawasan pendistribusian elpiji 3 Kg. (RED)















