Daeng Manye’ Hadiri Pernikahan Putri Syamsari Kitta: Kedewasaan Berpolitik Kunci Demokrasi Ideal

TAKALAR – Momen silaturahmi politik yang menghangatkan terjadi dalam resepsi pernikahan putri sulung mantan Bupati Takalar, Dr. Syamsari Kitta. Acara yang berlangsung meriah di Hotel Universitas Hasanuddin, Makassar, pada Minggu, 16 November 2025, menjadi saksi pertemuan perdana antara Syamsari Kitta dan rival politiknya di Pilbup Takalar 2024, Bupati Takalar saat ini, Muhammad Firdaus Daeng Manye’.

Putri Syamsari Kitta, Safirah Mujahidah, dipersunting oleh Darwin, S.H., seorang Hakim Pengadilan Negeri Majene. Syamsari Kitta bertindak langsung sebagai wali nikah dan memimpin prosesi ijab kabul, disaksikan oleh tokoh nasional seperti Wakil Menteri Luar Negeri, Anis Matta.

Gelaran tersebut dihadiri berbagai tokoh penting, termasuk Anis Matta, Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaeman, dan sejumlah Kepala Daerah lainnya.

Pertemuan Penuh Makna Pasca-Pilbup

Kehadiran Daeng Manye’ menjadi sorotan utama tamu undangan. Pasalnya, pertemuan ini adalah yang pertama kali sejak keduanya bertarung sengit dalam Pemilihan Bupati Takalar setahun sebelumnya.

Momen bahagia ini jauh dari nuansa persaingan, sebaliknya terlihat sangat humanis dan penuh silaturahmi. Tidak ada sedikit pun aura permusuhan di antara kedua tokoh tersebut.

Bupati Daeng Manye’ terlihat beberapa kali merangkul tangan mantan Bupati Takalar periode 2017-2022 itu. Syamsari Kitta pun membalasnya dengan senyum dan percakapan ringan, layaknya kawan lama. Keduanya mengawali perjumpaan dengan pelukan hangat.

Pesan Kedewasaan Berpolitik

Peristiwa pertemuan kedua tokoh ini diabadikan dengan foto bersama, menjadi simbol perdamaian dan kedewasaan berpolitik. Syamsari Kitta memberikan sinyal rekonsiliasi dengan mengundang secara hormat Daeng Manye’.

Sementara itu, kehadiran Daeng Manye’ seolah menitipkan pesan bahwa kontestasi demokrasi telah usai dan tensi politik sudah saatnya diturunkan. Ini adalah waktunya untuk menata dan memperbaiki pemerintahan tanpa lagi melihat sekat-sekat masa lalu.

Baik Syamsari Kitta maupun Daeng Manye’ sepakat bahwa kedewasaan berpolitik adalah kunci menuju peta jalan demokrasi yang ideal. Dialog politik santun yang dipertontonkan keduanya menjadi bagian dari edukasi berdemokrasi yang sehat di Tanah Air. Kedua pemimpin ini membuktikan bahwa jiwa besarlah yang melahirkan pemimpin besar. (HSN)

banner 2000x1100

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *