TAKALAR – Program talkshow “Takalar Cepat Menyapa” yang disiarkan melalui Suara Libang Bajeng Siber FM Diskominfo Takalar kembali menghadirkan narasumber inspiratif. Kali ini, Kepala Unit Pengelola Darah Rumah Sakit (UPD-RS) Haji Pajonga Daeng Ngalle Kabupaten Takalar, dr. Vitalis Talik, M.Kes., FISQua, hadir memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya donor darah, Selasa (10/3/2026).
Talkshow yang dipandu oleh Hesti S. ini mengangkat tema “Sehat dengan Donor Darah”. Tujuannya adalah meningkatkan pemahaman masyarakat akan krusialnya ketersediaan darah bagi pasien yang membutuhkan.
Dalam pembukaan acara, Hesti menyampaikan salam kepada pendengar setia Radio Libang Bajeng dan pemirsa kanal resmi Pemerintah Kabupaten Takalar. Ia menjelaskan bahwa program ini rutin menghadirkan narasumber dari berbagai bidang untuk memberikan informasi serta edukasi kepada masyarakat.
Pada kesempatan tersebut, dr. Vitalis Talik menjelaskan bahwa ketersediaan darah di rumah sakit merupakan komponen vital dalam pelayanan kesehatan, terutama bagi pasien yang memerlukan transfusi darah saat operasi maupun dalam kondisi darurat di Unit Gawat Darurat (UGD).
Ia mengungkapkan bahwa dirinya telah mengabdi di RS Haji Pajonga Daeng Ngalle selama kurang lebih 18 tahun, dengan 16 tahun di antaranya menjabat sebagai kepala unit. Ia menjelaskan bahwa terdapat perbedaan mendasar antara istilah “Bank Darah” dengan “Unit Pengelola Darah Rumah Sakit (UPD-RS)”.
“Jika bank darah hanya berfungsi menyimpan stok darah yang diperoleh dari pihak lain, seperti Palang Merah Indonesia (PMI), maka UPD-RS memiliki kewenangan lebih luas untuk mengelola serta mengorganisir kegiatan donor darah secara mandiri,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menerangkan bahwa darah merupakan satu-satunya komponen medis yang tidak bisa diproduksi atau dibeli layaknya obat-obatan maupun alat kesehatan lainnya. Oleh karena itu, ketersediaannya sangat bergantung pada kepedulian masyarakat untuk menjadi pendonor.
UPD-RS Takalar memiliki tugas merencanakan kebutuhan darah, mengorganisir kegiatan donor, serta menjalin kerja sama dengan PMI dan kelompok donor darah agar kebutuhan pasien tetap terpenuhi. Namun, dr. Vitalis mengakui adanya tantangan, terutama saat bulan Ramadan, di mana jumlah pendonor cenderung menurun karena kekhawatiran masyarakat terhadap kondisi fisik saat berpuasa.
“Biasanya setelah donor, seseorang perlu minum dan makan untuk memulihkan kondisi. Saat puasa hal itu tidak bisa dilakukan, sehingga angka partisipasi menurun,” ungkapnya.
Ia menambahkan, meskipun stok darah sempat mencapai lebih dari 200 kantong melalui berbagai kegiatan, kebutuhan pasien yang terus meningkat membuat stok tersebut sering kali belum mencukupi. Saat ini, pihak rumah sakit pun memberdayakan keluarga pasien untuk mencari donor pengganti jika stok di rumah sakit terbatas.
Selain itu, rendahnya kesadaran masyarakat untuk mendonor secara rutin menjadi kendala utama. Menurut dr. Vitalis, jumlah pendonor sukarela yang rutin melakukan donor setiap tiga bulan di Kabupaten Takalar masih sangat minim, yakni hanya berkisar 100 hingga 150 orang.
Melalui program “Takalar Cepat Menyapa”, dr. Vitalis berharap masyarakat semakin teredukasi dan terdorong untuk berpartisipasi secara sukarela. “Donor darah bukan hanya membantu orang lain yang membutuhkan, tetapi juga memberikan manfaat kesehatan bagi pendonor itu sendiri,” pungkasnya. (HSN)















