Silaturahmi Rumpun Wija La Mallarangeng di Soppeng: Pererat Persaudaraan dan Telusuri Jejak Sejarah

SOPPENG – Rumpun Wija La Mallarangeng To Samallangi Datu Lompulle Datu Mario Riawa menggelar silaturahmi di Desa Kebo, Kabupaten Soppeng, Minggu (28/12/2025). Pertemuan ini dihadiri berbagai keturunan dari lintas daerah guna mempererat kekeluargaan serta membangun kesepahaman awal terkait sejarah leluhur.

Tokoh adat Andi Bau Irman Datu Appo Mappanyukki menegaskan bahwa kehadirannya murni untuk urusan kekeluargaan.

“Saya hadir di Soppeng hanya untuk bersilaturahmi, tidak ada agenda lain di luar konteks adat dan kekeluargaan,” ujar Ketua Majelis Pembina Perkumpulan Perwira Adat Nusantara tersebut.

Selain berkumpul, rombongan juga mengunjungi Kampung Tana Tennga (Watan Lompulle) di Desa Kebo untuk melihat lokasi yang secara historis merupakan pusat peradaban pada masa pemerintahan La Pottobunne Arung Tanatengga.

Terkait wacana penelusuran makam La Mallarangeng To Samallangi, Andi Bau Irman menjelaskan bahwa rencana pembentukan “Tim Tujuh” peneliti masih sebatas wacana awal dan belum ada keputusan resmi.

Hal senada ditegaskan oleh Arham M.Si. La Palellung, inisiator grup rumpun Wija.

“Kami belum bisa menentukan letak makam sebelum ada tim peneliti yang melibatkan pakar, sejarawan, dan arkeolog,” tegas Arham.

Ia juga menambahkan bahwa pembentukan perkumpulan resmi belum diagendakan, sesuai hasil musyawarah sebelumnya di Saromase dan Attakkae.

Pertemuan ditutup dengan dialog santai bersama Kepala Desa Lompulle, Andi Amri, dan komitmen dari FAS Rahmat Kami Andi Saransi untuk menghadirkan sejarawan profesional guna menelusuri jejak leluhur secara ilmiah.

Merespons dinamika di lapangan, Arham M.Si. La Palellung selaku inisiator pertemuan memberikan klarifikasi terkait dua poin yang terjadi di luar kesepakatan awal:

– Penetapan lokasi makam yang dilakukan tanpa proses kajian sejarah dan penelitian memadai.

– Pembentukan tim formatur serta penetapan Ketua Presidium Rumpun Wija.

Arham menegaskan bahwa kedua poin tersebut tidak termasuk dalam agenda yang disepakati.

“Kami tidak bertanggung jawab atas penetapan makam maupun pembentukan tim formatur yang lahir di luar kesepakatan. Klarifikasi ini penting untuk menghindari miskomunikasi di kemudian hari,” pungkasnya. (*)

banner 2000x1100

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *