TAKALAR – Polemik pelaksanaan Gebyar, Pentas Seni (Pensi), dan pelepasan siswa tahun ajaran 2025/2026 di SMA Negeri 3 Takalar kian melebar. Setelah sebelumnya disorot karena dugaan diskriminasi undangan terhadap orang tua siswa, kini muncul persoalan baru terkait pengelolaan anggaran kegiatan yang dinilai tidak transparan.
Kepala SMAN 3 Takalar, Muh. Ilham Radi, membantah keras adanya pungutan uang kepada siswa. Ia menegaskan bahwa kegiatan tersebut murni diakomodasi melalui Dana Bantuan Operasional Satuan Pendidikan (BOSP).
Berita terkait: Berlindung di Balik Keterbatasan Fasilitas, SMAN 3 Takalar Hanya Undang Orang Tua Siswa Eligible
“Tidak ada pungutan sama sekali. Pihak sekolah tidak tahu-menahu karena kegiatan ini adalah agenda tahunan yang dianggarkan melalui dana BOSP,” ujar Ilham kepada awak media di ruang kerjanya, Rabu (20/5/2026).
Terkait pembatasan undangan, Ilham berdalih hal itu murni karena keterbatasan daya tampung fasilitas sekolah. Undangan akhirnya dibatasi hanya untuk perwakilan orang tua siswa yang berprestasi dan lolos jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP).
Namun, pernyataan Kepala Sekolah bertolak belakang dengan pengakuan Ketua Panitia Pensi, Muh. Alam. Ia membenarkan adanya penarikan iuran sebesar Rp150 ribu per siswa untuk membiayai kegiatan tersebut.
“Baru 390 orang yang memasukkan iuran sebelum kegiatan dimulai. Sebelum ini berjalan, kami hanya merapatkannya sesama siswa saja, tidak mengabarkan kepada orang tua mereka,” ungkap Alam. Jika dikalkulasi, total iuran dari 390 siswa tersebut mencapai sekitar Rp58,5 juta.
Kontradiksi ini memicu kekecewaan mendalam dari para orang tua murid. Salah satu orang tua siswa yang enggan dimadu namanya mempertanyakan kebijakan sekolah yang terkesan tebang pilih. Menurutnya, tidak adil jika seluruh siswa diwajibkan membayar, tetapi hanya orang tua siswa jalur eligible yang diundang.
Kritik tajam juga datang dari Ketua Ikatan Alumni (IKA) SMAN 3 Takalar, Gunawan. Dalam sambutannya di lokasi acara, ia secara terbuka menyuarakan keluhan para orang tua murid yang tidak mendapatkan undangan.
Situasi ini dinilai publik memperlihatkan lemahnya koordinasi internal sekolah. Alasan keterbatasan anggaran untuk membatasi undangan kini dianggap tidak relevan karena panitia diduga mengelola dua sumber dana sekaligus, yaitu iuran siswa dan dana BOS. Hingga berita ini diturunkan, sejumlah orang tua siswa mendesak adanya transparansi dan audit menyeluruh terhadap anggaran Pensi SMAN 3 Takalar. (HSN/TIM)















