Oleh: Dr. Ismail, S.Pd., M.Si.
Dosen Ilmu Administrasi Negara, Universitas Negeri Makassar
MAKASSAR – Esok, 28 September 2026, akan menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan Universitas Negeri Makassar. Prof. Dr. Hj. Andi Aslinda, M.Si. akan melangkah untuk mendaftarkan diri sebagai Bakal Calon Rektor UNM. Sebuah langkah yang bukan sekadar memenuhi tahapan administratif, melainkan bagian dari ikhtiar untuk mengambil tanggung jawab yang lebih besar bagi masa depan universitas.
Langkah esok membawa sebuah keyakinan bahwa kepemimpinan bukan semata-mata tentang posisi, melainkan tentang amanah, keberanian mengambil tanggung jawab, dan kesediaan melayani. Universitas yang besar tidak hanya membutuhkan pemimpin yang mampu mengambil keputusan, tetapi juga sosok yang mampu mendengar, merangkul perbedaan, serta menggerakkan seluruh potensi yang dimiliki institusi.

Dalam falsafah Bugis dikenal nilai lempu’, getteng, ada tongeng, dan siri’. Lempu’ mengajarkan kejujuran, getteng meneguhkan keteguhan prinsip, ada tongeng menempatkan kebenaran sebagai pegangan, sedangkan siri’ menjaga martabat dalam setiap tindakan. Nilai-nilai itulah yang menjadi semakin bermakna ketika seseorang bersedia berdiri di depan untuk menerima sebuah amanah besar.
Semangat yang sama hidup dalam kearifan masyarakat Makassar, Mandar, dan Toraja: bahwa perjalanan besar tidak pernah dibangun seorang diri. Ada kebersamaan, penghormatan terhadap sesama, keberanian, serta tanggung jawab kepada komunitas. Oleh karena itu, langkah menuju kepemimpinan universitas sejatinya bukan perjalanan personal, melainkan perjalanan untuk mempertemukan berbagai kekuatan dalam satu tujuan bersama.
Padaidi’ — bersama kita bergerak. Tidak harus selalu sama dalam pandangan, tetapi dapat dipersatukan oleh cita-cita yang sama: menghadirkan UNM yang semakin unggul, inovatif, berintegritas, serta mampu berdiri dengan percaya diri dalam percaturan pendidikan tinggi nasional dan internasional.
Esok, Prof. Andi Aslinda akan membawa ikhtiar tersebut dengan karakter kepemimpinan yang memadukan ketegasan dan kepedulian. Tegas ketika prinsip dan kepentingan institusi harus dijaga, tetapi tetap membuka ruang dialog ketika perbedaan membutuhkan jalan tengah. Kepemimpinan perguruan tinggi membutuhkan kemampuan untuk mempertemukan gagasan, membangun kepercayaan, dan mengubah perbedaan menjadi energi kolaborasi.
Esok adalah awal dari sebuah ikhtiar. Hasil akhirnya kelak menjadi bagian dari proses yang harus dihormati bersama. Yang terpenting, setiap langkah hendaknya tetap berada dalam koridor akademik, etika, kebersamaan, serta penghormatan terhadap seluruh warga Universitas Negeri Makassar.
“Berlayar pinisi membelah lautan, teguh kemudi menuju tujuan”.
Doa mengiringi ikhtiar dan harapan, semoga setiap langkah membawa kebaikan.
Pada akhirnya, jabatan memiliki batas waktu, tetapi nilai, keteladanan, dan pengabdian dapat meninggalkan jejak jauh melampaui masa jabatan. Maka esok, melangkahlah dengan tegak, Prof. Andi Aslinda. Jalani ikhtiar dengan hati yang jernih, jaga prinsip, rangkul kebersamaan, dan biarkan proses menentukan akhirnya.
Bismillah. Padaidi’ Mappideceng’.
Esok langkah dimulai. Ikhtiar ditunaikan. Harapan dititipkan untuk UNM. (*)















