PALOPO – Program Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang digulirkan oleh Bank Sulselbar terbukti menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi lokal. Lewat kucuran modal yang tepat sasaran, bank kebanggaan masyarakat Sulawesi Selatan dan Barat ini berhasil membantu para wirausahawan mengembangkan sayap bisnis sekaligus membuka lapangan kerja baru.
Apresiasi tinggi patut disematkan kepada Bank Sulselbar. Kinerjanya bukan sekadar angka di atas kertas. Berdasarkan data terbaru, realisasi KUR pada tahun 2025 berhasil menembus angka fantastis sebesar 120%. Tren positif ini berlanjut di tahun 2026, di mana pada Semester I ini, penyerapan KUR telah menyentuh angka 61%. Ini adalah bukti nyata bahwa Bank Sulselbar benar-benar hadir sebagai mitra utama bagi UMKM dan perbankan yang sehat serta dicintai masyarakat.
Namun, di tengah catatan impresif tersebut, tantangan di lapangan tetap ada. Proses birokrasi dan ketatnya prinsip kehati-hatian terkadang membuat sebagian pelaku usaha kecil gigit jari karena pengajuannya ditolak.
Ketua Badan Kajian dan Pengawasan Pembangunan Aliansi Media Jurnalis Independen Republik Indonesia (BKPP AMJI-RI), Muh. Rafi, turut menyoroti dinamika ini. Dalam pandangannya, capaian luar biasa Bank Sulselbar harus diimbangi dengan fleksibilitas pelayanan agar masyarakat bawah tidak merasa frustrasi.
“Apresiasi besar untuk Bank Sulselbar yang sukses melampaui target KUR. Ini membuktikan visi menjadi penggerak ekonomi Indonesia Timur bukan sekadar jargon,” ujar Muh. Rafi, Selasa (30/6/2026).
“Namun, inovasi tidak boleh berhenti pada angka serapan. Bank BPD harus mampu menyederhanakan akses. Jangan sampai masyarakat yang butuh modal justru merasa dipersulit oleh dinding birokrasi, sehingga mereka berbalik arah mencari pinjaman instan yang menjerat,” tambahnya.
Muh. Rafi menambahkan bahwa esensi dari slogan “Melayani Sepenuh Hati” dan misi sebagai “Mitra Utama bagi UMKM” diuji ketika bank berhadapan dengan calon debitur yang belum bankable (memenuhi syarat perbankan).
Solusi Ringan untuk Bank Sulselbar: Memudahkan Pengajuan KUR
Agar masyarakat semakin mudah mengakses KUR, Bank Sulselbar dapat menerapkan beberapa langkah taktis berikut:
1. Digitalisasi “Satu Pintu” yang Ramah Pengguna: Menghadirkan fitur pengajuan KUR berbasis aplikasi atau WhatsApp Bot resmi yang minim pengisian formulir fisik. Validasi awal bisa dilakukan via sistem untuk memotong rantai birokrasi.
2. Jemput Bola via Komunitas: Menempatkan petugas lapangan (Account Officer) langsung di pusat perbelanjaan, pasar tradisional, atau klaster UMKM untuk membantu pemberkasan di tempat.
3. Relaksasi Dokumen Non-Substansial: Mengganti syarat administrasi yang rumit dengan pendampingan pembuatan Nomor Induk Berusaha (NIB) secara kolektif bekerja sama dengan Pemda setempat.
Strategi “Anti-Tolak”: Menjaga Konsumen Agar Tidak Berpaling
Masalah terbesar perbankan saat ini adalah ketika nasabah ditolak, mereka langsung lari ke bank kompetitor, koperasi tidak resmi, atau bahkan pinjaman online ilegal. Untuk mengantisipasi hal tersebut, Bank Sulselbar wajib memberikan Solusi Edukatif-Inklusif saat penolakan terjadi:
1. Program “Kurasi & Inkubasi” (Bukan Ditolak, Tapi Ditunda): Saat permohonan tidak memenuhi syarat (misalnya karena pembukuan buruk), sampaikan penolakan dengan cara yang positif. Masukkan nasabah ke dalam program pembinaan UMKM binaan Bank Sulselbar untuk memperbaiki manajemen keuangan mereka selama 1–3 bulan, lalu ajukan kembali.
2. Opsi Pengalihan Produk Mitra Koperasi Sehat: Jika kendala ada pada regulasi ketat KUR, Bank Sulselbar bisa bermitra dengan koperasi daerah yang sehat dan terverifikasi untuk menyalurkan pembiayaan mikro alternatif, sehingga dana tetap berputar di ekosistem yang aman.
3. Penyediaan Checklist Perbaikan:
Berikan surat penolakan yang disertai checklist transparan mengenai poin apa saja yang kurang dan solusi menghadapi kekurangan tersebut, sehingga nasabah merasa tetap “Diorangkan” dan berkomitmen untuk kembali ke Bank Sulselbar begitu syaratnya terpenuhi.
Melalui langkah inovatif ini, Bank Sulselbar tidak hanya mempertahankan posisinya sebagai mitra strategis pemerintah daerah, tetapi juga menjelma menjadi benteng pelindung ekonomi masyarakat dari jeratan pembiayaan yang merugikan. Langkah ini akan menyempurnakan misi mulia membangun kawasan timur Indonesia secara inklusif. (FSL)















