Oleh: Ardi Doma (Anggota DPRD Fraksi PDI Perjuangan)
Beberapa waktu terakhir, perbincangan tentang Piala Dunia begitu ramai. Mulai dari anak-anak hingga kalangan pejabat, masing-masing memiliki tim favorit yang dijagokan menjadi juara. Euforia sepak bola ini sangat menarik jika dijadikan refleksi dalam melihat bagaimana sebuah pemerintahan daerah dijalankan.
Menjalankan pemerintahan daerah pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan mengelola sebuah tim sepak bola di ajang Piala Dunia. Bupati berperan sebagai pelatih yang menentukan arah, strategi, dan target yang ingin dicapai. DPRD menjalankan fungsi sebagai mitra sekaligus pengawas, memastikan seluruh proses berjalan sesuai aturan dan tujuan yang telah ditetapkan. Sementara itu, para kepala dinas, camat, lurah, hingga Aparatur Sipil Negara (ASN) merupakan para pemain yang bertugas mengeksekusi strategi tersebut di lapangan.
Dalam sepak bola, sehebat apa pun strategi seorang pelatih tidak akan menghasilkan kemenangan apabila para pemain tidak disiplin atau gagal menjalankan perannya dengan baik. Sebaliknya, pemain berkualitas pun akan kesulitan membawa tim meraih hasil maksimal jika tidak didukung oleh arah dan strategi yang jelas.
Pandangan ini sejalan dengan pemikiran pakar kepemimpinan, John C. Maxwell, yang menegaskan bahwa keberhasilan seorang pemimpin sangat ditentukan oleh kualitas tim di sekelilingnya. Karena itu, pemimpin yang baik bukan hanya mampu memimpin, tetapi juga piawai memilih, membangun, dan mengelola tim yang solid dengan visi yang sama.
Dalam konteks pemerintahan, masyarakat adalah suporter sekaligus pemilik sah dari tim tersebut. Mereka memberikan mandat melalui suara dalam pemilihan umum dan berhak menilai hasil kerja pemerintah. Oleh karena itu, kemenangan sebuah pemerintahan tidak diukur dari banyaknya janji, seremoni, atau pencitraan semata. Kemenangan sejati tercermin dari “gol-gol” yang berhasil dicetak, yakni pelayanan publik yang semakin prima, pembangunan yang merata, serta meningkatnya kesejahteraan masyarakat.
Ada pelajaran penting lain yang dapat dipetik dari lapangan hijau. Tim yang terlalu bergantung pada pemain cadangan atau pelaksana tugas (plt) akan kesulitan membangun ritme permainan yang stabil. Situasi serupa juga terjadi dalam birokrasi pemerintahan. Jabatan struktural yang terlalu lama diisi oleh pejabat sementara berpotensi menggerus efektivitas organisasi, memperlambat pengambilan keputusan, serta menurunkan kepastian eksekusi program pembangunan.
Walhasil, yang dibutuhkan dalam pemerintahan bukan sekadar kuantitas personel, melainkan hadirnya tim yang solid, kompak, profesional, dan sinergis. Sebab pada akhirnya, sebagaimana dalam sepak bola, kemenangan tidak pernah ditentukan oleh satu orang semata, melainkan oleh kerja kolektif seluruh tim yang bertanding demi satu tujuan: kepentingan rakyat. (*)















