TAKALAR – Maraknya aksi pembusuran yang terjadi di sejumlah titik di Kabupaten Takalar dalam beberapa waktu terakhir menuai sorotan keras dari aktivis setempat, Abdul Salam. Fenomena tersebut dinilai telah menciptakan rasa takut di tengah masyarakat dan mengganggu aktivitas warga, khususnya pada malam hari.
Masyarakat yang melintas di jalan raya pada malam hari kini dihantui kekhawatiran menjadi korban pembusuran oleh orang tidak dikenal (OTK). Kondisi ini dinilai mencerminkan situasi keamanan yang perlu mendapat perhatian serius dari aparat penegak hukum.
Abdul Salam, yang akrab disapa Salam, secara tegas mempertanyakan efektivitas langkah-langkah yang telah dilakukan jajaran Polres Takalar dalam mencegah dan memberantas aksi pembusuran yang terus berulang.
“Setiap hari masyarakat hanya disuguhi imbauan dan peringatan agar berhati-hati. Namun, yang dibutuhkan masyarakat bukan sekadar imbauan, melainkan tindakan nyata, penangkapan pelaku, dan jaminan keamanan saat beraktivitas di malam hari,” tegas Salam.
Menurutnya, apabila aksi pembusuran terus terjadi tanpa adanya pengungkapan yang jelas serta langkah pencegahan yang efektif, maka publik berhak mempertanyakan kinerja aparat dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas).
Salam menilai bahwa kehadiran negara harus dapat dirasakan secara nyata oleh masyarakat. Ia meminta Kapolres Takalar untuk tidak hanya fokus pada pendekatan seremonial, tetapi juga memperkuat patroli, pemetaan daerah rawan, operasi cipta kondisi, serta penindakan tegas terhadap kelompok-kelompok yang diduga terlibat dalam aksi kriminal jalanan.
“Kami menantang Kapolres Takalar untuk membuktikan bahwa institusi kepolisian masih mampu memberikan rasa aman kepada masyarakat. Jangan biarkan jalanan Takalar dikuasai oleh pelaku kriminal yang setiap saat dapat mengancam keselamatan warga,” ujarnya.
Lebih lanjut, Salam menyampaikan bahwa rasa takut yang kini dirasakan masyarakat merupakan indikator bahwa penanganan persoalan keamanan belum berjalan secara optimal. Ia mengaku menerima banyak keluhan dari warga yang enggan bepergian pada malam hari karena khawatir menjadi korban pembusuran.
“Jika masyarakat sudah takut keluar rumah pada malam hari karena khawatir diserang oleh orang tak dikenal, maka ini adalah alarm serius yang tidak boleh dianggap biasa. Negara harus hadir dan aparat harus menunjukkan keberpihakannya kepada keamanan masyarakat,” lanjutnya.
Sebagai bentuk kritik terhadap kondisi yang terjadi, Salam menyatakan adanya mosi tidak percaya dari sebagian masyarakat terhadap kemampuan aparat dalam memberantas aksi pembusuran, apabila kasus-kasus tersebut terus berulang tanpa solusi yang jelas.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa kritik yang disampaikan merupakan dorongan agar Polres Takalar bekerja lebih maksimal dalam mengungkap pelaku dan memulihkan rasa aman masyarakat.
“Kami tidak sedang mencari sensasi. Kami berbicara atas keresahan masyarakat. Tangkap pelakunya, ungkap jaringannya, dan buktikan bahwa Takalar bukan wilayah yang tunduk pada aksi premanisme jalanan. Masyarakat menunggu hasil, bukan sekadar janji,” tutup Abdul Salam.
Keamanan adalah hak masyarakat. Ketika warga takut berkendara pada malam hari, maka aparat penegak hukum wajib menjawabnya dengan tindakan nyata, cepat, dan terukur. (HSN/TIM)















