Langit Jakarta disayat petir
Hujan deras menabuh genderang getir
Di jalan raya, bara menyala
Seperti gunung menahan amarahnya
Seorang pemuda gugur
Tubuhnya digilas besi-besi angkuh
Darahnya menetes di aspal basah
Mengalir jadi sungai perlawanan
Tapi kematian hanyalah benih
Yang ditanam bumi untuk menumbuhkan hutan
Dari luka lahir keberanian
Dari kubur bangkit seribu nyawa baru
Orang-orang menyalakan obor di dada
Mereka adalah ombak merah
Menggulung kota demi kota
Menghantam karang keserakahan
Angin tak lagi sekadar angin
Ia jadi teriakan
Api tak lagi sekadar api
Ia jadi tekad yang tak terbakar
Waktu pun tunduk pada gelora
Keadilan menyeruak dari reruntuhan dusta
Dan di balik langit yang kelam
Berkibar jiwa Affan, abadi dalam perlawanan
Watansoppeng, 02 September 2025. (*)















