Potensi Desa Punaga Mendunia, Kepala Desa Sambut Baik Sorotan Media Asing

TAKALAR – Kepala Desa Punaga, Kabupaten Takalar, Syarifuddin Daeng Sore, memberikan tanggapan positif terkait kunjungan delegasi media internasional ke wilayahnya. Ia menjelaskan bahwa rencana peliputan ini telah dikoordinasikan sejak satu bulan sebelumnya.

“Awalnya ada delegasi yang datang menyampaikan bahwa wartawan dari Singapura akan meliput aktivitas pembudidaya di Desa Punaga. Mereka mendokumentasikan seluruh proses, mulai dari pembibitan, pemanenan, hingga tahap pengemasan hasil panen ke dalam karung untuk dipasarkan,” ujar Syarifuddin kepada JURNAL pada Sabtu (4/4/2026).

banner 1600x606

Syarifuddin menyatakan kebanggaannya atas ketertarikan media mancanegara tersebut. Menurutnya, publikasi skala internasional ini merupakan peluang besar untuk memperkenalkan potensi kekayaan alam desa ke mata dunia.

Baca juga: Takalar Menuju Pasar Global: Rumput Laut Desa Punaga Dilirik Investor Tiongkok

“Kami sangat senang karena ada wawancara langsung dengan media asing yang tayang di mancanegara. Harapannya, potensi desa kami diketahui dunia sehingga negara-negara pembeli bisa bersaing harga secara sehat. Dampak positifnya akan langsung dirasakan oleh petani kita, serta memberikan kontribusi pajak ekspor bagi pemerintah,” pungkasnya.

Sebelumnya, Channel News Asia (1/4/2026) melaporkan posisi strategis Indonesia sebagai produsen rumput laut tropis terbesar di dunia, menempati posisi kedua secara keseluruhan setelah Tiongkok. Rumput laut yang dijuluki sebagai “Emas Hijau” ini terbukti telah mengubah taraf hidup masyarakat pesisir di Sulawesi Selatan.

Banyak nelayan kecil yang kini mampu membangun rumah permanen dan menyekolahkan anak-anak hingga jenjang perguruan tinggi berkat komoditas ini. Namun, laporan tersebut juga menyoroti beberapa tantangan besar:

* Lebih dari 80% ekspor Indonesia masih berupa bahan mentah ke Tiongkok, sehingga petani rentan terhadap fluktuasi harga global.

* Penggunaan botol plastik sekali pakai sebagai pelampung masih menjadi masalah polusi mikroplastik. Saat ini, pemerintah mulai menguji coba pelampung ramah lingkungan berbahan HDPE.

* Pemerintah tengah mendorong pembangunan kapasitas pengolahan dalam negeri agar Indonesia tidak hanya menjual bahan mentah, tetapi juga produk turunan seperti karagenan, kosmetik, hingga bioplastik demi nilai tambah ekonomi yang lebih besar.

Meskipun kesejahteraan masyarakat pesisir meningkat, keberlanjutan industri ini sangat bergantung pada keberhasilan pemerintah dalam menangani polusi plastik dan menciptakan kemandirian pasar internasional. (HSN)

banner 2000x1100

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *