JURNAL MAKASSAR – Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) Program Studi Pendidikan Seni Rupa FKIP menggelar pameran seni rupa antar bangsa “Kawali” (badik-red), yang digelar di Kampus Unismuh Makassar, Sabtu (26/7/2025).
Ketua Jurusan Pendidikan Seni Rupa FKIP Unismuh Makassar, Meisar Ashari, S.pd.,M.Sn, mengatakan bahwa terbentuknya pameran ini atas inisiasi mahasiswa itu sendiri yakni “Kawali”.
“Kawali ini merepresentasikan budaya. Maksudnya, disini ada beberapa nilai filosofi yang kita bangun dari Kawali. Misalnya karena ini adalah institusi pendidikan, jadi bagaimana nilai-nilai Kawali ini diimplementasikan masuk ke dalam ranah pameran,” ucap Meisar kepada JURNAL saat di wawancara, Sabtu.
Pertama, kata Meisar, bahwa Kawali itu dikenal adalah senjata tradisional khas Bugis Makassar. Yang namanya senjata itu kan pasti tajam, jadi tajam ini nanti akan dituangkan dalam bentuk kegiatan mahasiswa bagaimana mahasiswa itu mampu mengimplementasi ketajaman Kawali itu melalui ketajaman ide, gegasan, wawasannya mahasiswa untuk membangun sebuah karya.
Kemudian yang kedua, Kawali itu adalah simbol keberanian. Jadi keberanian disini juga menuntut kepada mahasiswa bahwa harus berani dalam berekspresi, mengekspresikan diri dalam membuat sebuah karya dan yang terakhir itu adalah Kawali itu pasti mempunyai penghormatan.
“Jadi rasa hormat disini juga mahasiswa dituntut untuk bagaimana supaya bisa hormat terhadap nilai-nilai luhur. Tidak sekedar berekspresi tetapi menghormati nilai-nilai luhur, nah inilah sebenarnya esensi kawali yang saya tangkap di dalam bentuk filosofi lalu diimplementasikan dalam bentuk pameran,” terangnya.
“Jadi mahasiswa mulai dari ketajamannya
Keberanian dan kehormatan itu
Mesti harus dijaga dalam berkarya,” sambungnya.
Pameran seni rupa ini digelar selama 2 hari, dimulai sejak Sabtu 26 sampai Minggu 27. Dan diakhir acara besok akan ada sesi diskusi. Pameran ini dibuat untuk mahasiswa dalam bentuk apresiasi, maka dari itu ini semua murni dari mahasiswa Fakultas Prodi Pendidikan Seni Rupa, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Unismu Makassar.
“Ada pun keterlibatan teman-teman dari parewabesi itu karena saya melihat bahwa
kawali itu sangat identik dengan teman-teman di parewabesi
dan memang substansi dari sistem pembelajaran kita itu juga dan memang ada kaitannya dengan nilai-nilai parewabesinya di situ. Maka dari itu begitu kita melihat bahwa ada teman-teman parewabesi yang ingin membantu,
kenapa tidak? Jadi justru ini adalah menjadi peluang bagi kita di institusi pendidikan
bisa saling terintegrasi dengan lembaga-lembaga seni budaya seperti ini,” paparnya.
Lebih lanjut dikatakan Meisar, ini akan justru bisa membuat jalan lebih mudah untuk bisa mengedukasi masyarakat umum yang lebih luas.
Ditanya soal lukisan seni rupa dijual atau tidak, Meisar mengatakan bahwa karya-karya yang ada di sini tidak jual. Ini hasil mahasiswa sendiri.
“Disini sudah terintegrasi karya seniman-seniman dari luar negeri. Ada 14 negara di sini seniman luar negeri, kemudian di sini juga ada karya-karya mahasiswa, jadi mahasiswa ketika misalnya dia berpameran, dia tidak merasa canggung, kan biasanya kalau kita pameran dengan luar negeri itu kita merasa canggung, merasa ciut, tetapi setelah melihat sekarang tidak canggung lagi,” urainya.
“Itulah salah satu motivasi kami di prodi seni rupa membangun kegiatan-kegiatan yang bertarap internasional seperti ini. Dan ini pameran perdana dilaksanakan dan dari sini juga kita sudah memahami di mana kekurangan kita, di mana keunggulan kita dalam hal prosesi pelaksanaan pameran dan kita akan perbaiki,” ujarnya.
Lalu terakhir, teman-teman dari parewabesi pelaksanaan kegiatan selanjutnya bisa menampilkan proses penempaan di tempat, dan ini justru jauh lebih mengedukasi, karena tantangan teknis kerja itu juga pasti buat mahasiswa menjadi sesuatu hal yang lebih baik. (FSL)













