banner 1024x1024

Soroti Kerusakan DAS Suso hingga Angka Kemiskinan, Tokoh Pemuda Ragukan Peluang Luwu Raih Adipura

LUWU – Jika tak ada halangan, pekan depan Tim Verifikasi Adipura akan bertandang ke Kabupaten Luwu sebagai rangkaian penilaian untuk memperebutkan predikat Adipura.

Kendati demikian, sebagian publik di Luwu masih bersikap pesimistis kabupaten ini dapat membawa pulang piala tersebut.

Betapa tidak, kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS) Suso serta status Luwu sebagai daerah termiskin di Luwu Raya (LuRa) dan peringkat ketiga termiskin di Sulawesi Selatan (Sulsel), menjadi pekerjaan rumah yang sangat berat bagi Bupati dan Wakil Bupati Luwu.

“Saya kira tim penilai pasti memiliki data dan tidak asal memberi predikat. Ya, Alhamdulillah jika Luwu meraih Adipura. Tapi ingat, masih banyak Pekerjaan Rumah (PR) Pemda Luwu—dalam hal ini Bupati dan Wakil Bupati—yang perlu diselesaikan. Misalnya, menuntaskan kemiskinan yang angkanya cukup memprihatinkan, yakni urutan ketiga di Sulsel dan termiskin di Luwu Raya, serta persoalan perusakan lingkungan yang sangat terang-terangan di depan mata. Itu semua masuk dalam kategori penilaian, jadi harus dituntaskan dulu baru bicara Adipura,” kata Tokoh Pemuda Luwu, Bayu Purnomo, saat menanggapi rencana kunjungan tim Adipura kepada Indeksmedia pada Jumat (30/10/2026).

Mantan Sekretaris KNPI Sulsel tersebut menegaskan, persoalan Adipura memang sekadar masalah predikat. Akan tetapi, perlu dicatat bahwa dari tiga kabupaten dan satu kota yang ada di wilayah Luwu Raya, Kabupaten Luwu dan Luwu Utara (Lutra) hingga kini belum pernah sama sekali menyandang predikat Adipura.

“Selama ini, yang meraihnya selalu Luwu Timur (Lutim) dan Kota Palopo. Ini membuktikan bahwa pemimpinnya belum mampu memberikan kontribusi nyata terhadap predikat Adipura. Sebab, Adipura merupakan tolok ukur kerja nyata pemerintah dalam rangka mendorong kesejahteraan masyarakat,” terangnya.

Bayu mencontohkan, salah satu instrumen penilaian Adipura adalah persoalan kebersihan lingkungan di daerah. Di wilayah Walmas saja, dengan jumlah penduduk kurang lebih 100 ribu jiwa, hingga saat ini belum memiliki Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

“Kerusakan DAS Suso ini pun menjadi perhatian khusus. Bagaimana mungkin mau mengejar Adipura, sementara kerusakan lingkungan besar-besaran terjadi di Luwu?” pungkasnya. (*)

banner 2000x1100

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *