Dari Wajo ke Nasional: Anak Muda Berkarya Bersama PKS

JURNAL WAJO – Musmuliadi, tokoh muda asal Wajo, menegaskan pentingnya peran generasi muda dalam politik. Saat ini, Musmuliadi mulai aktif di level nasional bersama tokoh pemuda asal Wajo, Andries Riesfandhy dan Ketua Bidang Kaderisasi DPD PKS Wajo, yang menjadi mentor bagi Musmuliadi dan generasi muda lainnya.

Pernyataan ini disampaikan dalam Musyawarah Daerah (Musda) PKS Wajo pada Sabtu (2025) di Cafe Rumah Tua, Sengkang.

banner 1600x606

Baca juga: PKS Wajo Gandeng Praktisi Digital untuk Perkuat Literasi Politik

Baca juga: Jejak Kaderisasi PKS Muda, Andries Riesfandhy Dari Wajo ke Nasional

Sejak awal kiprahnya, Andries dikenal dekat dengan Tamsil Linrung, tokoh nasional senior asal Sulawesi Selatan yang pernah menjabat anggota DPR RI dan kini menjadi Wakil Ketua DPD RI. Pengalaman menjadi mentor ini memberinya kesempatan mencontohkan bagaimana anak muda bisa berkiprah di tingkat nasional, mengambil pelajaran dari jejak Tamsil, sekaligus mendorong generasi muda Wajo agar berani mengambil peran strategis di panggung politik nasional.

Musmuliadi menekankan bahwa anak muda tidak boleh sekadar menjadi aksesoris lima tahunan dalam pesta demokrasi.

“Anak muda bukan sekadar pemanis politik, apalagi hanya muncul saat pemilu. Mereka adalah penentu arah bangsa, penggerak literasi informasi, sekaligus motor perubahan yang menentukan masa depan Wajo dan Indonesia,” ujarnya.

Ia menambahkan, derasnya arus informasi yang sering simpang siur menuntut generasi muda tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga filter dan penggerak literasi informasi di masyarakat. PKS Wajo ingin memanfaatkan energi, kreativitas, dan keberanian anak muda untuk membangun politik yang bersih, berintegritas, dan berpihak pada rakyat.

Musmuliadi menekankan bahwa PKS Wajo ingin menjadi rumah besar bagi anak muda, sebuah ruang yang tidak hanya menerima ide dan gagasan, tetapi juga menyalurkan energi positif mereka ke dalam kerja nyata untuk masyarakat. Dengan semangat ini, partai berharap dapat merangkul lebih banyak generasi muda untuk menjadikan politik sebagai sarana pengabdian, bukan sekadar perebutan kekuasaan.

Menutup pernyataannya, Musmuliadi mengutip falsafah Bugis yang sarat makna kebersamaan “Mali siparappe, rebba sipatokkong, malilu sipakainge.” Artinya, kalau ada yang hanyut kita saling menolong, kalau ada yang jatuh kita saling menopang, dan kalau ada yang lupa kita saling mengingatkan.

Nilai-nilai kearifan lokal inilah yang harus menjadi dasar gerak politik anak muda: saling mendukung, saling menjaga, dan saling menguatkan demi kemajuan Wajo dan Indonesia. (*)

banner 2000x1100

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *